KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN
ILMIAH
MAKALAH
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Diskusi Kelompok
pada
Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester Satu
yang
Diampu oleh Drs. H. M. Nur Fawzan Ahmad, M. A.
OLEH
KELOMPOK
12
1. Zikra
Hayati (24024112120003)
2. Dadi
Pratama Socenta (24020112120015)
3. Chory
Paseptiana (24020112120029)
4. Siti
Mudhakiroh (24020112130033)
5. Dones
Pratama (24020112130044)
6. Seviana
Mulia (24020112140049)
7. Rahmawati
Dewi (24020112140052)
8. Nalar
Mutiara Esa (24020112130055)
9. Wilda
Marta Lola (24020112140060)
10. Annisa
Widyasari (24020112140063)
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami ucapkan kapada Allah SWT atas selesainya makalah ini. Terimakasih
kepada dosen pembimbing atas segala koreksi dan bimbingan. Terimakasih
rekan-rekan bahasa indonesia kelas A yang telah memberikan kontribusi dalam
diskusi, kritik maupun saran.
Penyusun memohon maaf atas segala
kekurangan yang tidak disengaja dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat serta membantu perbaikan penggunaan ejaan dalam karya ilmiah bagi
pembaca
Semarang, 28 Oktober 2012
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………… I
DAFTAR ISI …………………………………………………… II
BAB
I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1
A. Latar
Belakang …………………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah ……………………………………………….... 1
C. Tujuan
…………………………………………………… 1
BAB
II KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH
A.
Fungsi Ejaan ……………………………………........................ 2
B. Cakupan
Ejaan ………………………............................................ 2
C. Penggunaan
Ejaan dan Tanda Baca……………………………… 4
D. Kesalahan-Kesalahan Penggunaan Ejaan
...................................... 7
BAB
III PENUTUP ..................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
..................................................................................... 11
SOAL .................................................................................................... 12
KUNCI JAWABAN
......................................................................................... 13
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bahasa
Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa serta alat komunikasi baik langsung
maupun tidak langsung. Bahasa indonesia mempunyai aturan-aturan yang bersifat
baku. Dalam makalah ini penyusun akan menjabarkan beberapa aturan diantarannya fungsi
ejaan, ruang lingkup serta beberapa tanda baca.
Umumnya
makalah disusun dan dipubikasikan dengan tulisan. Komunikasi tidak langsung ini
sangat berbeda dengan komunikasi secara langsung. Maka dari itu aspek-aspek
penulisan perlu diperhatikan, salah satunya ejaan. Banyak Mahasiswa dalam penulisan
karya ilmiah melakukan kesalahan penggunaan ejaan. Kesalahan demikian terjadi
karena kurangnya penguasaan terhadap aspek-aspek Bahasa indonesia. Khususnya
tentang penggunaan enjaan.
Dari
latar belakang diatas penyusun tertarik untuk menyusun makalah dengan judul
“Kesantunan Ejaan Dalam Karya Ilmiah”.
B. Rumusan Masalah
1. Apa fungsi dari ejaan ?
2. Apa saja ruang lingkup ejaan ?
3. Bagaimana cara penggunaan ejaan dan
tanda baca ?
4. Apa saja kesalahan penggunaan ejaan
yang sering terjadi dalam tulisan ilmiah ?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui fungsi dari ejaan.
2.
Memahami ruang lingkup ejaan dan penggunaan tanda baca.
3.
Dapat menggunakan tanda baca dan ejaan dengan tepat.
4.
Meminimalisir kesalahan penggunaan ejaan dalam tulisan ilmiah.
BAB
II
KESANTUNAN
EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH
A. Fungsi Ejaan
Menulis
karangan pada dasarnya menyampaikan gagasan kepada pembaca. Gagasan itu sampai kepada
pembaca atau tidak, bergantung pada banyak hal. Salah satu yang mempengaruhi sampai
tidaknya gagasan itu adalah kejelasan. Kejelasan itu dapat mencakup banyak hal
diantaranya sistematika, struktur kalimat, dan ketepatan penulisan (ejaan).
Sebuah tulisan yang tidak runut atau tidak sistematis akan sulit ditangkap oleh
pembaca. Tulisan yang disampaikan dalam wujud kalimat yang tidak karuan
strukturnya juga akan membingungkan pembaca. Tulisan yang penuh salah cetak dan
ejaan, tentu saja, juga akan menjengkelkan pembaca. Dengan kata lain, tulisan
yang tidak jelas berpotensi menimbulkan gangguan pemahaman dari pembaca.
(Soetomo, 2002 )
(Soetomo, 2002 )
Dari
pemaparan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menulis perlu diperhatikan bukan hanya kalimat,
paragraph, tapi juga ejaan
1.
Pengertian Ejaan
Ejaan sangat penting artinya dalam kaitannya dengan
penggunaan bahasa indonesia produktif
tulis. dalam tulis menulis orang tidak hanya dituntut untuk dapat menyusun kalimat dengan baik,
memilih kata yang tepat, melainkan juga mengeja kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Penyimpangan dari ketentuan yang
berlaku, dapat mengurangi nilai suatu karya tulis. (Soetomo,2002)
2.
Fungsi Ejaan
Dari batasan dan cakupannya,
terlihat bahwa ejaan mempunyai fungsi. Fungsinya
adalah (1) sebagai landasan pembakuan tata bahasa, (2) sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan,
dan (3) sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur
bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
(Wibowo,2006)
B.
Cakupan Ejaan
1.
Penulisan Nama
1.1 Nama Diri
Nama diri ditandai dengan pemakaian huruf kapital sebagai huruf
awal pada setiap kata.
1.1.1
Nama diri
dapat dikenali karena:
Bersifat satu-satunya (tidak ada duanya), misalnya Presiden Republik
Indonesia, Rumah Sakit Islam Jakarta. Dan tidak didahului kata bilangan (satu, dua, dst.; beberapa; seorang, dua
orang, dst.; kedua, ketiga, dst.), misalnya dua Gubernus Jawa Barat.Yang
benar: Gubernur Jawa Barat dan dua gubernur
1.2 Nama Jenis
Nama jenis adalah sebutan lain untuk istilah “kata benda”. Setiap kata yang
bukan nama diri disebut kata benda atau nama jenis. Kata seperti gubernur,
presiden, dsb., jika tidak disertai nama orang, tempat, dan
sebagainya. Penulisannya tidak perlu
diawali dengan huruf kapital.
2.
Penulisan Kata
2.1 Kata Dasar
Kata dasar, yang belum mendapat imbuhan, ditulis sesuai dengan kaidah yang berkaitan,
misalnya dengan kaidah pemakaian huruf kapital.
Contoh: Meja, Sadar.
2.2 Kata
Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata yang sudah mendapat imbuhan berupa awalan, akhiran, sisipan, dan gabungan dari awalan dan akhiran. Imbuhan dituliskan
serangkai dengan kata dasar.
Contoh: berlari, mengejar.
2.3 Gabungan
Kata/Kata Majemuk
Gabungan kata dan kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih
yang menyatakan makna khusus. Gabungan kata dan kata majemuk ditulis terpisah, kecuali yang sudah padu benar.
Contoh: adu domba, balap karung.
3. Huruf Kapital
Pemakaian huruf kapital
3.1 Pada penulisan nama diri, baik nama orang, nama geografis, nama
waktu, nama gelar, nama pangkat, maupun nama-nama lainnya.
Contoh: Dadi, Nalar, Semarang, gula Jawa
3.2 Pada penulisan kata ganti penunjuk kekerabatan, yang dipakai sebagai sapaan
(untuk orang kedua dan orang ketiga). Tidak
digunakan jika kata kekerabatan itu didahului kata bilangan atau diikuti kata ganti milik.
Contoh: Ibu, Bibi
3.3 Pada gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, dan kepangkatan
yang diikuti nama orang.
Contoh: Ustad Yusuf Mansur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
3.4 Pada nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh: Jendral Sudirman.
3.5 Pada awal kata dan setiap
unsur katanya, (kecuali kata
penghubung) untuk nama badan, dokumen
resmi, lembaga pemerintah, dan judul karangan, buku, majalah, dan surat kabar.
Contoh: Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan, Dewan Perwakilan Rakyat
3.6 Singkatan nama gelar yang diikuti nama orang dan singkatan sapaan, diakhiri
dengan tanda titik.
Contoh: Sdr. (Saudara)
Prof. (Profesor)
M.A. (Master of Arts)
M.A. (Master of Arts)
3.7 Beberapa kaidah pemakaian huruf kapital juga berlaku dalam penulisan
kalimat, petikan langsung, dan ungkapan keagamaan.
Contoh: “Aku ingin menjadi Pilot” Kata gadis kecil itu.
C. Penggunaan Ejaan Dan Tanda Baca
Penggunaan
tanda baca
1.
Titik
Titik atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan (.). Tanda ini lazimnya dipakai untuk :
Titik atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan (.). Tanda ini lazimnya dipakai untuk :
1.1 Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.
Contoh:
Bapak sudah pergi ke kantor.
Tidak ada yang perlu ditakuti.
Ada kalangan yang menganggap cara dramatik itu sebagai cara yang terbaik.
Contoh:
Bapak sudah pergi ke kantor.
Tidak ada yang perlu ditakuti.
Ada kalangan yang menganggap cara dramatik itu sebagai cara yang terbaik.
1.2 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan
singkatan kata atau ungkapan yang
sudah lazim. Pada singkatan kata yang sudah terdiri dari tiga huruf atau lebih yang dipakai satu titik.
Contoh:
Dr. (Dokter)
d.a. (dengan alamat)
M.Sc. (Master of Science)
dll. (dan lain-lain)
S.H. (Sarjana Hukum)
dst. (dan seterusnya)
M.A.(Master of arts)
Yth. (yang terhormat)
Semua
singkatan kata yang menggunakan inisial atau akronim tidak menggunakan titik contoh: DPR, MPR,
ABRI, Hankam, Kopkamtib, ampera, Lemhanas,
dsb.
1.3 Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka ribuan dan kelipatannya,
juga dipakai untuk
memisahkan angka jam, menit dan titik.
Contoh:
1.000
123.000
154.375.000
pukul 5.45.42 (pukul lima 45 menit 42 detik)
1.000
123.000
154.375.000
pukul 5.45.42 (pukul lima 45 menit 42 detik)
2. Koma
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menarik ditengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Disamping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu.
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menarik ditengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Disamping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu.
Dalam
hal-hal berikut dapat digunakan tanda koma :
2.1
Untuk memisahkan
bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menyatakan pertentangan,
antara anak kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan anak
kalimat.
Contoh:Ia sudah
berusaha sekuat tenaga, tetapi maksudnya tidak tercapai. Nenek mengatakan dengan bangga,
bahwa mereka adalah keturunan petani yang kuat-kuat, yang pantang
mengalah dengan raksasa alam, dan tidak lupa beliau bercerita tentang
tanggul sungai yang arsiteknya beliau rencanakan sendiri.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa dalam usaha penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, lebih
dahulu harus ditentukan secara deskriptif tata fonem bahasa Indonesia sebelum
dilakukan pemilihan huruf bagi fonem-fonemnya.
2.2 Koma digunakan untuk menandai suatu bentuk parentetis
(keterangan-keterangan tambahan yang biasanya ditempatkan juga dalam kurung)
dan unsur-unsur yang tak restriktif :
Contoh:
Pertama, tulislah nama saudara di kertas itu.
Kedatangannya,
seperti yang diinginkan dari dulu, tidak disambut dengan upacara
besar-besaran.
2.3 Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
apabila anak kalimat mendahului induk kalimatnya, atau untuk memisahkan induk
kalimat dengan sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.
Contoh:
Bila hujan behenti, ia akan mulai menanami sawahnya.
Bila hujan behenti, ia akan mulai menanami sawahnya.
Karena marah,
ia meninggalkan kami.
Sebagai
pembuka acara ini, kami persilahkan hadirin berdiri untuk menyanyikan
lagu kebangsaan.
2.4 Koma digunakan untuk menceraikan kata yang disebut berturut-turut :
Contoh:
Ia membeli seekor ayam, dua ekor kambing, dan lima puluh kilo gula sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya.
Realita
kehidupan penuh kaidah, aturan-aturan, ukuran-ukuran, dan
hukum-hukum yang memberikan arti pada keselarasan hidup itu sendiri.
2.5 Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat
pada awal kalimat, misalnya : jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun
begitu, akan tetapi, disamping itu, dan lain-lain
Contoh:
Biarpun
demikian, pelajar-pelajar yang berkualitas baik tidak sepenuhnya
tertampung dalam universitas-universitas.
Oleh karena
itu, sudah tibalah waktunya bagi kita untuk menata kembali kehidupan di
kampus ini.
2.6 Koma selalu digunakan untuk menghindari salah baca atau keragu-raguan.
Contoh:
Meragukan : Di luar rumah kelihatan suram.
J e l a s : Di luar, rumah kelihatan suram.
J e l a s : Di luar rumah, kelihatan suram.
2.7 Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang
diajak bicara.
Contoh:
Saya mendoakan, Yanto, agar engkau selalu berhasil dalam usahamu.
Saya setuju, Saudara.
Saya mendoakan, Yanto, agar engkau selalu berhasil dalam usahamu.
Saya setuju, Saudara.
2.8 Koma dipakai juga untuk memisahkan aposisi dari kata yang diterangkan.
Contoh:
Jendral Sudirman, Pemimpin Tertinggi Tentara Indonesia, dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.
Jendral Sudirman, Pemimpin Tertinggi Tentara Indonesia, dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.
Orang tuanya,
Pak Amin, telah meninggal dunia tadi malam.
2.9 Koma
dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif seperti o, ya, wah, aduh, kasihan,
dari bagian kalimat lainnya.
Contoh:
Aduh, betapa sedihnya nasibnya.
Wah, sungguh hebat hasil yang mereka capai.
O begitu, kami baru mengerti sekarang.
Aduh, betapa sedihnya nasibnya.
Wah, sungguh hebat hasil yang mereka capai.
O begitu, kami baru mengerti sekarang.
2.10 Tanda koma dipakai
untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dari bagian kalimat lainnya.
Contoh:
Kata ayah, “Saya akan mengurus sendiri persoalan ini”.
Kata ayah, “Saya akan mengurus sendiri persoalan ini”.
2.11 Koma
digunakan juga untuk beberapa maksud berikut:
2.11.1 Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tinggal.
2.11.2 Menceraikan bagian nama yang dibalikkan (untuk referensi, misalnya).
2.11.3 Memisahkan nama keluarga dari gelar akademik.
2.11.4 Untuk menyatakan angka desimal.
2.11.1 Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tinggal.
2.11.2 Menceraikan bagian nama yang dibalikkan (untuk referensi, misalnya).
2.11.3 Memisahkan nama keluarga dari gelar akademik.
2.11.4 Untuk menyatakan angka desimal.
Contoh :
Bila anda ingin menyurati saya, harap dialamatkan ke : Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jln. Dasksinapati , Rawamangun, Jakarta.
Mulyana, Slamet ( namanya sebetulnya Slamet Mulyono )
Tanah ini panjangnya 25,54m
Bila anda ingin menyurati saya, harap dialamatkan ke : Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jln. Dasksinapati , Rawamangun, Jakarta.
Mulyana, Slamet ( namanya sebetulnya Slamet Mulyono )
Tanah ini panjangnya 25,54m
D.
Kesalahan Penggunaan Ejaan
Kesalahan
pemakaian bahasa Indonesia dalam tulisan ilmiah pada umumnya berkaitan dengan:
1. kesalahan penalaran,
2. kerancuan
3. pemborosan
4. ketidaklengkapan kalimat,
5. kesalahan kalimat pasif
6. kesalahan ejaan.
1. kesalahan penalaran,
2. kerancuan
3. pemborosan
4. ketidaklengkapan kalimat,
5. kesalahan kalimat pasif
6. kesalahan ejaan.
1. Kesalahan Penalaran
Contoh:
Kegiatan penelitian di bidang ilmu hortikultur akan meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
Kegiatan penelitian di bidang ilmu hortikultur akan meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
2. Kerancuan
Kerancuan terjadi karena penerapan dua kaidah atau lebih. Kerancuan terbagi atas
dua atas kerancuan bentukan kata dan kerancuan kalimat.
Contoh:
Memperdengarkan dari mendengarkan apa yang mereka dengar dan memperdengarkan apa yang mereka dengar.
Memperdengarkan dari mendengarkan apa yang mereka dengar dan memperdengarkan apa yang mereka dengar.
3. Pemborosan
Pemborosan terjadi apabila terdapat unsur yang tidak berguna dalam penggunaan bahasa.
Contoh:
Parameter percobaan yang digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian yang terdapat dalam penelitian yang dilakukan terdiri dari dua parameter, yaitu parameter utama dan parameter penunjang.
Parameter percobaan yang digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian yang terdapat dalam penelitian yang dilakukan terdiri dari dua parameter, yaitu parameter utama dan parameter penunjang.
4. Ketidaklengkapan Kalimat
Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila setidak-tidaknya mempunyai
pokok (subyek) dan penjelas (predikat).
Contoh:
Penelitian yang dilakukan menghasilkan teknologi baru tentang sistem pertanian organik.
Penelitian yang dilakukan menghasilkan teknologi baru tentang sistem pertanian organik.
5. Kesalahan Kalimat Pasif
Kesalahan pembentukan kalimat pasif yang sering dilakukan oleh
penulis karya tulis ilmiah adalah kesalahan
pembentukan kalimat pasif yang berasal dari kalimat
aktif intransitif.
Contoh:
Berbagai kesalahan departemen teknis dalam kuartal pertama tahun 2001 berhasil diungkap melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan.
Pertanyaan yang dapat diajukan adalah siapa yang berhasil ? Benarkah yang berhasil adalah berbagai kesalahan departemen teknis ?
Berbagai kesalahan departemen teknis dalam kuartal pertama tahun 2001 berhasil diungkap melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan.
Pertanyaan yang dapat diajukan adalah siapa yang berhasil ? Benarkah yang berhasil adalah berbagai kesalahan departemen teknis ?
6. Kesalahan Ejaan
Bahasa Indonesia telah mempunyai kaidah penulisan (ejaan) yang telah
dibakukan, yaitu Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau
lebih dikenal dengan istilah EYD.
6.1 Pemisahan
kata yang tidak dapat berdiri sendiri :
Salah : Pasca Sarjana, Pasca Panen, Usaha Tani,
Benar : Pascasarjana, Pascapanen, Usahatani
Salah : Pasca Sarjana, Pasca Panen, Usaha Tani,
Benar : Pascasarjana, Pascapanen, Usahatani
6.2 Gabungan kata yang mungkin menimbulkan salah penafsiran :
Salah Penafsiran : Alat pandang dengar, Bersama anak isteri, Buku sejarah baru
Benar : Alat pandang-dengar, Bersama anak-isteri, Buku sejarah-baru
Salah Penafsiran : Alat pandang dengar, Bersama anak isteri, Buku sejarah baru
Benar : Alat pandang-dengar, Bersama anak-isteri, Buku sejarah-baru
6.3 Kata jadian berimbuhan gabung depan dan belakang ditulis serangkai :
Kurang benar : Memberi tahukan, Dilipat gandakan, Dinon-aktifkan
Benar : Memberitahukan, Dilipatgandakan, Dinonaktifkan
Kurang benar : Memberi tahukan, Dilipat gandakan, Dinon-aktifkan
Benar : Memberitahukan, Dilipatgandakan, Dinonaktifkan
6.4 Teknik Menulis
Ilmiah
Penggunaan
huruf kapital pada huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa; berbeda dengan
pada huruf pertama yang menunjuk tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa
sejarah.
Kurang benar : Bangsa Indonesia, Suku Madura
Benar : bangsa Indonesia, suku Madura
Kurang benar : Bangsa Indonesia, Suku Madura
Benar : bangsa Indonesia, suku Madura
6.5 Bedakan dengan :
hari Kartini — Hari Kartini
hari Raya Idul Fitri — Hari Raya Idul Fitri
hari Kartini — Hari Kartini
hari Raya Idul Fitri — Hari Raya Idul Fitri
6.6 Kata hubung antar kalimat
Kurang benar : Oleh sebab itu kami…, Namun hal itu…, Untuk itu saudara…
Benar : Oleh sebab itu, kami ……… , Namun, hal itu ……….. , Untuk itu, saudara ....
Kurang benar : Oleh sebab itu kami…, Namun hal itu…, Untuk itu saudara…
Benar : Oleh sebab itu, kami ……… , Namun, hal itu ……….. , Untuk itu, saudara ....
6.7 Penulisan lambang bilangan
Kurang benar : Menonton 3 kali, Tigaratus ekor ayam, ½ bagian keuntungan
Benar : Menonton tiga kali, 300 ekor ayam, Setengah bagian keuntungan
Kurang benar : Menonton 3 kali, Tigaratus ekor ayam, ½ bagian keuntungan
Benar : Menonton tiga kali, 300 ekor ayam, Setengah bagian keuntungan
Penulisan
angka menggunakan huruf bila angka terdiri dari satu kata.
Penulisan angka menggunakan angka apabila lebih dari satu kata.
Penulisan angka menggunakan angka apabila lebih dari satu kata.
6.8 Penulisan lambang bilangan dan singkatan pada awal kalimat
Kurang benar : 15 orang berhasil, 250 orang tamu
Benar : Limabelas orang berhasil, Duaratus limapuluh orang tamu
Kurang benar : 15 orang berhasil, 250 orang tamu
Benar : Limabelas orang berhasil, Duaratus limapuluh orang tamu
6.9 Penulisan unsur serapan
Bahasa asli : Analisis, Chromosome, Technique, Quality
Kurang benar : Analisa, Khromosom, Tehnik, Kwalitas
Benar : Analisis, Kromosom, Teknik, Kualitas
Bahasa asli : Analisis, Chromosome, Technique, Quality
Kurang benar : Analisa, Khromosom, Tehnik, Kwalitas
Benar : Analisis, Kromosom, Teknik, Kualitas
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ejaan mempunyai fungsi. Diantarannya (1) sebagai
landasan pembakuan tata bahasa, (2) sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan, dan (3) sebagai
alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
Ruang lingkup
ejaan antara lain (1)
Pemakaian huruf kapital, (2) Penggunaan
tanda baca, (3) Penulisan
kata, (4) Penulisan unsur serapan.
Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia
dalam tulisan ilmiah pada umumnya berkaitan dengan:(1) kesalahan penalaran, (2) kerancuan, (3) pemborosan, (4) ketidaklengkapan
kalimat, (5) kesalahan kalimat pasif, (6) kesalahan ejaan
B. Saran
Penyusun menyarankan dalam penulisan
karya ilmiah maupun makah, penggunaan ejaan dan tanda baca lebih diperhatikan.
Penggunaan font huruf, maupun
penomoran haruslah konsisten. Tidak diperkenankan menggunakan simbol yang tidak
diperlukan. Dalam penulisan istilah perlu dijelaskan terlebih dahulu, sehingga
pembaca langsung dapat menangkap maksud penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Soetomo,
Istiati.2002.Bahasa Indonesia Dasar
Penulisan Ilmiah.Semarang;Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Wibowo,Wahyu.2006.Berani Menulis Artikel. Jakarta;Gramedia
Pustaka Utama
Sunu Wasono.
2004. “Karya Tulis
Ilmiah Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya
Yayasan Obor Indonesia”.
Yayasan Obor Indonesia”.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2175113-mencermati-ejaan/#ixzz28DTbOfel Diakses pada tanggal 03
Oktober 2012.
SOAL
Objektif
1.
Penulisan lambang bilangan berikut yang sesuai dengan ejaan yang baik dan benar
pada awal kalimat dalam karangan ilmiah
adalah......
a. 5
korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
b. lima
puluh korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
c. lima
korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
d. d.10
korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
2. Penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
di resmikan pada tahun....
a. 1999
b. 2000
c. 1973
d. 1972
3. Dibawah ini yang bukan merupakan fungsi
dari ejaan adalah.....
a. sebagai landasan pembentukan kosa kata baru
b. sebagai landasan pembakuan tata bahasa
c. sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan
d. sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahsa
Indonesia
4. Penggunaan tanda baca titik dalam
pemisahan jam, menit dan detik adalah...
a. 23:23:40
b. 00,00,35
c. 01.01.05
d. 05;05;15
5.
Penggunaan tanda koma dalam kalimat di bawah ini yang benar adalah....
a. A.k,Pardede,as,M,A.
b. Saya, setuju
saudara.
c. O, begitu
kami baru mengerti sekarang.
d. Jendral
Sudirman, Pemimpin Tertinggi Tentara Indonesia.
Essay
1. Sebutkan pengertian ejaan
menurut KBBI!
Kunci Jawaban
Objektif
1.
c
2.
d
3.
a
4.
c
5.
d
Essay
1.
kaidah-kaidah
cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan
(huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.