Kamis, 13 Juni 2013

KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH

KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH










MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Diskusi Kelompok
pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester Satu
yang Diampu oleh Drs. H. M. Nur Fawzan Ahmad, M. A.

OLEH KELOMPOK 12

1.      Zikra Hayati                      (24024112120003)
2.      Dadi Pratama Socenta      (24020112120015)
3.      Chory Paseptiana              (24020112120029)
4.      Siti Mudhakiroh                (24020112130033)
5.      Dones Pratama                  (24020112130044)
6.      Seviana Mulia                   (24020112140049)
7.      Rahmawati Dewi              (24020112140052)
8.      Nalar Mutiara Esa             (24020112130055)
9.      Wilda Marta Lola              (24020112140060)
10.  Annisa Widyasari              (24020112140063)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami ucapkan kapada Allah SWT atas selesainya makalah ini. Terimakasih kepada dosen pembimbing atas segala koreksi dan bimbingan. Terimakasih rekan-rekan bahasa indonesia kelas A yang telah memberikan kontribusi dalam diskusi, kritik maupun saran.
            Penyusun memohon maaf atas segala kekurangan yang tidak disengaja dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat serta membantu perbaikan penggunaan ejaan dalam karya ilmiah bagi pembaca

Semarang, 28 Oktober 2012

 Penyusun













                                                                        i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR           ……………………………………………………   I
DAFTAR ISI                          ……………………………………………………   II
BAB I    PENDAHULUAN  ……………………………………………………    1
A.    Latar Belakang   ……………………………………………………    1
B.     Rumusan Masalah ………………………………………………....     1
C.     Tujuan                ……………………………………………………    1
BAB II   KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH 
A.    Fungsi Ejaan     ……………………………………........................     2  
B.     Cakupan Ejaan ………………………............................................      2
C.     Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca………………………………       4 
D.    Kesalahan-Kesalahan Penggunaan Ejaan ......................................       7
BAB III PENUTUP      .....................................................................................        10
            DAFTAR PUSTAKA               .....................................................................................        11
            SOAL             ....................................................................................................        12
            KUNCI JAWABAN .........................................................................................        13

           
           














                                                                        ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa serta alat komunikasi baik langsung maupun tidak langsung. Bahasa indonesia mempunyai aturan-aturan yang bersifat baku. Dalam makalah ini penyusun akan menjabarkan beberapa aturan diantarannya fungsi ejaan, ruang lingkup serta beberapa tanda baca.
Umumnya makalah disusun dan dipubikasikan dengan tulisan. Komunikasi tidak langsung ini sangat berbeda dengan komunikasi secara langsung. Maka dari itu aspek-aspek penulisan perlu diperhatikan, salah satunya ejaan. Banyak Mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah melakukan kesalahan penggunaan ejaan. Kesalahan demikian terjadi karena kurangnya penguasaan terhadap aspek-aspek Bahasa indonesia. Khususnya tentang penggunaan enjaan.
Dari latar belakang diatas penyusun tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “Kesantunan Ejaan Dalam Karya Ilmiah”.

B. Rumusan Masalah
      1. Apa fungsi dari ejaan ?
      2. Apa saja ruang lingkup ejaan ?
      3. Bagaimana cara penggunaan ejaan dan tanda baca ?
      4. Apa saja kesalahan penggunaan ejaan yang sering terjadi dalam tulisan ilmiah ?

C. Tujuan
      1. Mengetahui fungsi dari ejaan.
      2. Memahami ruang lingkup ejaan dan penggunaan tanda baca.
      3. Dapat menggunakan tanda baca dan ejaan dengan tepat.
      4. Meminimalisir kesalahan penggunaan ejaan dalam tulisan ilmiah.








BAB II
KESANTUNAN EJAAN DALAM KARANGAN ILMIAH

A. Fungsi Ejaan
                        Menulis karangan pada dasarnya menyampaikan gagasan kepada pembaca. Gagasan itu sampai kepada pembaca atau tidak, bergantung pada banyak hal. Salah satu yang mempengaruhi sampai tidaknya gagasan itu adalah kejelasan. Kejelasan itu dapat mencakup banyak hal diantaranya sistematika, struktur kalimat, dan ketepatan penulisan (ejaan). Sebuah tulisan yang tidak runut atau tidak sistematis akan sulit ditangkap oleh pembaca. Tulisan yang disampaikan dalam wujud kalimat yang tidak karuan strukturnya juga akan membingungkan pembaca. Tulisan yang penuh salah cetak dan ejaan, tentu saja, juga akan menjengkelkan pembaca. Dengan kata lain, tulisan yang tidak jelas berpotensi menimbulkan gangguan pemahaman dari pembaca.
                                                                                                                        (Soetomo, 2002 )
                        Dari pemaparan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menulis perlu        diperhatikan bukan hanya kalimat, paragraph, tapi juga ejaan
1.      Pengertian Ejaan
                        Ejaan sangat penting artinya dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa   indonesia produktif tulis. dalam tulis menulis orang tidak hanya dituntut untuk dapat             menyusun kalimat dengan baik, memilih kata yang tepat, melainkan juga mengeja   kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku. Penyimpangan dari     ketentuan yang berlaku, dapat mengurangi nilai suatu karya tulis.                                                                                                                                                    (Soetomo,2002)
            2.   Fungsi Ejaan
                        Dari batasan dan cakupannya, terlihat bahwa ejaan mempunyai fungsi.        Fungsinya adalah (1) sebagai landasan pembakuan tata bahasa, (2) sebagai landasan         pembakuan kosa kata dan peristilahan, dan (3) sebagai alat penyaring masuknya        unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
                                                                                                                        (Wibowo,2006)


B. Cakupan Ejaan
           
      1.      Penulisan Nama
1.1  Nama Diri
 Nama diri ditandai dengan pemakaian huruf kapital sebagai huruf awal pada setiap kata.

1.1.1        Nama diri dapat dikenali karena:
Bersifat satu-satunya (tidak ada duanya), misalnya Presiden Republik Indonesia, Rumah Sakit Islam Jakarta. Dan tidak didahului kata bilangan (satu, dua, dst.; beberapa; seorang, dua orang, dst.; kedua, ketiga, dst.), misalnya dua Gubernus Jawa Barat.Yang benar: Gubernur Jawa Barat dan dua gubernur

1.2  Nama Jenis
Nama jenis adalah sebutan lain untuk istilah “kata benda”. Setiap kata yang bukan nama diri disebut kata benda atau nama jenis. Kata seperti gubernur, presiden, dsb., jika tidak disertai nama orang, tempat, dan sebagainya. Penulisannya tidak perlu diawali dengan huruf kapital.

2.      Penulisan Kata 
2.1  Kata Dasar
                  Kata dasar, yang belum mendapat imbuhan, ditulis sesuai dengan kaidah yang       berkaitan, misalnya dengan kaidah pemakaian huruf kapital.
Contoh: Meja, Sadar.
2.2 Kata Berimbuhan
                  Kata berimbuhan adalah kata yang sudah mendapat imbuhan berupa awalan,          akhiran, sisipan, dan gabungan dari awalan dan akhiran. Imbuhan dituliskan serangkai   dengan kata dasar.
Contoh: berlari, mengejar.

2.3 Gabungan Kata/Kata Majemuk
                  Gabungan kata dan  kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang         menyatakan makna khusus. Gabungan kata dan kata majemuk ditulis terpisah, kecuali         yang sudah padu benar.
Contoh: adu domba, balap karung.

3.     Huruf Kapital
      Pemakaian huruf kapital
3.1  Pada penulisan nama diri, baik nama orang, nama geografis,  nama waktu, nama gelar, nama pangkat, maupun nama-nama lainnya.
Contoh: Dadi, Nalar, Semarang, gula Jawa
3.2  Pada penulisan kata ganti penunjuk kekerabatan, yang dipakai sebagai sapaan (untuk orang kedua dan orang ketiga). Tidak digunakan jika kata kekerabatan itu didahului kata bilangan atau diikuti kata ganti milik.
Contoh: Ibu, Bibi
3.3  Pada gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, dan kepangkatan yang  diikuti nama orang.
Contoh: Ustad Yusuf Mansur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
3.4  Pada nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh: Jendral Sudirman.
3.5  Pada awal kata dan setiap unsur katanya, (kecuali kata penghubung) untuk nama badan, dokumen resmi, lembaga pemerintah, dan judul karangan, buku, majalah, dan surat kabar.
Contoh: Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan, Dewan Perwakilan Rakyat
3.6  Singkatan nama gelar yang diikuti nama orang dan singkatan sapaan, diakhiri dengan tanda titik.
Contoh: Sdr.           (Saudara)
              Prof.          (Profesor)
              M.A.          (Master of Arts)
3.7  Beberapa kaidah pemakaian huruf kapital juga berlaku dalam penulisan kalimat, petikan langsung, dan ungkapan keagamaan.
Contoh: “Aku ingin menjadi Pilot” Kata gadis kecil itu.
                                                                               
C. Penggunaan Ejaan Dan Tanda Baca
     Penggunaan tanda baca
1.      Titik
            Titik atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan (.). Tanda ini lazimnya dipakai untuk :

1.1  Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.
  Contoh:
  Bapak sudah pergi ke kantor.
  Tidak ada yang perlu ditakuti.
  Ada kalangan yang menganggap cara dramatik itu sebagai cara yang terbaik.

1.2  Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan singkatan        kata atau ungkapan yang sudah lazim. Pada singkatan kata yang sudah terdiri      dari tiga huruf atau lebih yang dipakai satu titik.

            Contoh:
            Dr. (Dokter)
            d.a. (dengan alamat)
            M.Sc. (Master of Science)
            dll. (dan lain-lain)
            S.H. (Sarjana Hukum)
            dst. (dan seterusnya)
            M.A.(Master of arts)
            Yth. (yang terhormat)
            Semua singkatan kata yang menggunakan inisial atau akronim tidak            menggunakan titik contoh: DPR, MPR, ABRI, Hankam, Kopkamtib, ampera,    Lemhanas, dsb.
1.3 Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka ribuan dan kelipatannya, juga                       dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan titik.
          Contoh:
                  1.000
                  123.000
                  154.375.000
                  pukul 5.45.42 (pukul lima 45 menit 42 detik)
2.      Koma
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menarik ditengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Disamping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu.
      Dalam hal-hal berikut dapat digunakan tanda koma :
2.1  Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menyatakan pertentangan, antara anak kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan anak kalimat.
            Contoh:Ia sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi maksudnya tidak tercapai.                                      Nenek mengatakan dengan bangga, bahwa mereka adalah keturunan petani yang kuat-kuat, yang pantang mengalah dengan raksasa alam, dan tidak lupa beliau bercerita tentang tanggul sungai yang arsiteknya beliau rencanakan sendiri.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam usaha penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, lebih dahulu harus ditentukan secara deskriptif tata fonem bahasa Indonesia sebelum dilakukan pemilihan huruf bagi fonem-fonemnya.
2.2  Koma digunakan untuk menandai suatu bentuk parentetis (keterangan-keterangan tambahan yang biasanya ditempatkan juga dalam kurung) dan unsur-unsur yang tak restriktif :

Contoh:
Pertama, tulislah nama saudara di kertas itu.
Kedatangannya, seperti yang diinginkan dari dulu, tidak disambut dengan upacara besar-besaran.

2.3  Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk kalimatnya, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.
Contoh:
Bila hujan behenti, ia akan mulai menanami sawahnya.
Karena marah, ia meninggalkan kami.
Sebagai pembuka acara ini, kami persilahkan hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan.

2.4  Koma digunakan untuk menceraikan kata yang disebut berturut-turut :

Contoh:
            Ia membeli seekor ayam, dua ekor kambing, dan lima puluh kilo gula sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya.
Realita kehidupan penuh kaidah, aturan-aturan, ukuran-ukuran, dan hukum-hukum yang memberikan arti pada keselarasan hidup itu sendiri.

2.5  Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat pada awal kalimat, misalnya : jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, disamping itu, dan lain-lain



Contoh:
Biarpun demikian, pelajar-pelajar yang berkualitas baik tidak sepenuhnya tertampung dalam universitas-universitas.
Oleh karena itu, sudah tibalah waktunya bagi kita untuk menata kembali kehidupan di kampus ini.

2.6  Koma selalu digunakan untuk menghindari salah baca atau keragu-raguan.

Contoh:
Meragukan : Di luar rumah kelihatan suram.
J e l a s : Di luar, rumah kelihatan suram.
J e l a s : Di luar rumah, kelihatan suram.
2.7  Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang diajak bicara.
      Contoh:
      Saya mendoakan, Yanto, agar engkau selalu berhasil dalam usahamu.
      Saya setuju, Saudara.
2.8 Koma dipakai juga untuk memisahkan aposisi dari kata yang diterangkan.
      Contoh:
                  Jendral Sudirman, Pemimpin Tertinggi Tentara Indonesia, dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.
Orang tuanya, Pak Amin, telah meninggal dunia tadi malam.
2.9 Koma dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari bagian kalimat lainnya.
     
      Contoh:
      Aduh, betapa sedihnya nasibnya.
      Wah, sungguh hebat hasil yang mereka capai.
      O begitu, kami baru mengerti sekarang.
2.10 Tanda koma dipakai untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dari bagian kalimat lainnya.
      Contoh:
      Kata ayah, “Saya akan mengurus sendiri persoalan ini”.
2.11 Koma digunakan juga untuk beberapa maksud berikut:
      2.11.1 Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tinggal.
      2.11.2 Menceraikan bagian nama yang dibalikkan (untuk referensi, misalnya).
      2.11.3 Memisahkan nama keluarga dari gelar akademik.
      2.11.4 Untuk menyatakan angka desimal.
            Contoh :
            Bila anda ingin menyurati saya, harap dialamatkan ke : Fakultas Sastra Universitas             Indonesia, Jln. Dasksinapati , Rawamangun, Jakarta.
            Mulyana, Slamet ( namanya sebetulnya Slamet Mulyono )
            Tanah ini panjangnya 25,54m
D. Kesalahan Penggunaan Ejaan
            Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam tulisan ilmiah pada umumnya           berkaitan dengan:
            1. kesalahan penalaran,
            2. kerancuan
            3. pemborosan
            4. ketidaklengkapan kalimat,
            5. kesalahan kalimat pasif
            6. kesalahan ejaan.

1.      Kesalahan Penalaran
            Contoh:
            Kegiatan penelitian di bidang ilmu hortikultur akan meningkatkan kesadaran                      mahasiswa akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
2.      Kerancuan
                        Kerancuan terjadi karena penerapan dua kaidah atau lebih. Kerancuan terbagi        atas dua atas kerancuan bentukan kata dan kerancuan kalimat.
            Contoh:
           
Memperdengarkan dari mendengarkan apa yang mereka dengar dan memperdengarkan apa yang mereka dengar.
3.      Pemborosan
                        Pemborosan terjadi apabila terdapat unsur yang tidak berguna dalam           penggunaan bahasa.
            Contoh:
            Parameter percobaan yang digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian yang     terdapat dalam penelitian yang dilakukan terdiri dari dua parameter, yaitu parameter   utama dan parameter penunjang.
4.      Ketidaklengkapan Kalimat
                        Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila setidak-tidaknya mempunyai pokok       (subyek) dan penjelas (predikat).
            Contoh:
            Penelitian yang dilakukan menghasilkan teknologi baru tentang sistem pertanian    organik.
5.      Kesalahan Kalimat Pasif
                        Kesalahan pembentukan kalimat pasif yang sering dilakukan oleh penulis    karya tulis ilmiah adalah kesalahan pembentukan kalimat pasif yang berasal dari         kalimat aktif intransitif.
   Contoh:
               Berbagai kesalahan departemen teknis dalam kuartal pertama tahun 2001 berhasil diungkap melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan     Pembangunan.
               Pertanyaan yang dapat diajukan adalah siapa yang berhasil ? Benarkah yang berhasil adalah berbagai kesalahan departemen teknis ?
6.      Kesalahan Ejaan
                        Bahasa Indonesia telah mempunyai kaidah penulisan (ejaan) yang telah       dibakukan, yaitu Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau lebih dikenal    dengan istilah EYD.
            6.1 Pemisahan kata yang tidak dapat berdiri sendiri :
                        Salah : Pasca Sarjana, Pasca Panen, Usaha Tani,
                        Benar : Pascasarjana, Pascapanen, Usahatani
            6.2 Gabungan kata yang mungkin menimbulkan salah penafsiran :
                        Salah Penafsiran : Alat pandang dengar, Bersama anak isteri, Buku sejarah                         baru
                        Benar : Alat pandang-dengar, Bersama anak-isteri, Buku sejarah-baru
            6.3 Kata jadian berimbuhan gabung depan dan belakang ditulis serangkai :
                        Kurang benar : Memberi tahukan, Dilipat gandakan, Dinon-aktifkan
                        Benar : Memberitahukan, Dilipatgandakan, Dinonaktifkan
   6.4 Teknik Menulis Ilmiah
                      Penggunaan huruf kapital pada huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa; berbeda dengan pada huruf pertama yang menunjuk tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
          Kurang benar : Bangsa Indonesia, Suku Madura
          Benar : bangsa Indonesia, suku Madura
            6.5 Bedakan dengan :
                        hari Kartini — Hari Kartini
                        hari Raya Idul Fitri — Hari Raya Idul Fitri
            6.6 Kata hubung antar kalimat
                        Kurang benar : Oleh sebab itu kami…, Namun hal itu…, Untuk itu saudara…
                        Benar : Oleh sebab itu, kami ……… , Namun, hal itu ……….. , Untuk itu,                         saudara ....
            6.7 Penulisan lambang bilangan
                        Kurang benar : Menonton 3 kali, Tigaratus ekor ayam, ½ bagian keuntungan
                        Benar : Menonton tiga kali, 300 ekor ayam, Setengah bagian keuntungan
                        Penulisan angka menggunakan huruf bila angka terdiri dari satu kata.
                        Penulisan angka menggunakan angka apabila lebih dari satu kata.
            6.8 Penulisan lambang bilangan dan singkatan pada awal kalimat
                        Kurang benar : 15 orang berhasil, 250 orang tamu
                        Benar : Limabelas orang berhasil, Duaratus limapuluh orang tamu
            6.9 Penulisan unsur serapan
                        Bahasa asli : Analisis, Chromosome, Technique, Quality
                        Kurang benar : Analisa, Khromosom, Tehnik, Kwalitas
                        Benar : Analisis, Kromosom, Teknik, Kualitas

















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Ejaan mempunyai fungsi. Diantarannya (1) sebagai landasan pembakuan tata bahasa, (2) sebagai landasan             pembakuan kosa kata dan peristilahan, dan (3) sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
            Ruang lingkup ejaan antara lain (1) Pemakaian huruf kapital, (2) Penggunaan tanda baca, (3) Penulisan kata, (4) Penulisan unsur serapan.
            Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam tulisan ilmiah pada umumnya berkaitan dengan:(1) kesalahan penalaran, (2) kerancuan, (3) pemborosan, (4) ketidaklengkapan kalimat, (5) kesalahan kalimat pasif, (6) kesalahan ejaan

B. Saran
            Penyusun menyarankan dalam penulisan karya ilmiah maupun makah, penggunaan ejaan dan tanda baca lebih diperhatikan. Penggunaan font huruf, maupun penomoran haruslah konsisten. Tidak diperkenankan menggunakan simbol yang tidak diperlukan. Dalam penulisan istilah perlu dijelaskan terlebih dahulu, sehingga pembaca langsung dapat menangkap maksud penulis.
















DAFTAR PUSTAKA
Soetomo, Istiati.2002.Bahasa Indonesia Dasar Penulisan Ilmiah.Semarang;Badan Penerbit           Universitas Diponegoro.
Wibowo,Wahyu.2006.Berani Menulis Artikel. Jakarta;Gramedia Pustaka Utama
Sunu Wasono. 2004. Karya Tulis Ilmiah Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya
            Yayasan Obor Indonesia
.
            http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2175113-mencermati-ejaan/#ixzz28DTbOfel          Diakses pada tanggal 03 Oktober 2012.












            SOAL
            Objektif

1. Penulisan lambang bilangan berikut yang sesuai dengan ejaan yang baik dan benar   pada awal kalimat dalam karangan ilmiah adalah......
a.       5 korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
b.      lima puluh korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
c.       lima korban jiwa dalam kebakaran tadi sore
d.      d.10 korban jiwa dalam kebakaran tadi sore

2.  Penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan di resmikan pada tahun....
a.       1999
b.      2000
c.       1973
d.      1972

 3. Dibawah ini yang bukan merupakan fungsi dari ejaan adalah.....
a.       sebagai landasan pembentukan kosa kata baru
b.      sebagai landasan pembakuan tata bahasa
c.       sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan
d.      sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahsa Indonesia
4. Penggunaan tanda baca titik dalam pemisahan jam, menit dan detik adalah...
a.       23:23:40
b.      00,00,35
c.       01.01.05
d.      05;05;15

5. Penggunaan tanda koma dalam kalimat di bawah ini yang benar adalah....
a.       A.k,Pardede,as,M,A.
b.      Saya, setuju saudara.
c.       O, begitu kami baru mengerti sekarang.
d.      Jendral Sudirman, Pemimpin Tertinggi Tentara Indonesia.
Essay
1. Sebutkan pengertian ejaan menurut KBBI!   



Kunci Jawaban

      Objektif
1.      c
2.      d
3.      a
4.      c
5.      d

Essay
1.      kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.